Rabu, 08 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN DHF (Demam Berdarah)

 
A.    Pengertian
Dengue Hemorhagic Fever (DHF) adalah  suatu penyakit yang ditandai dengan adanya tanda – tanda dan gejala demam serta perdarahan (Depkes RI, 2000).
Dengue Hemorhagic Fever adalah merupakan manifestasi klinis yang berat dari penyakit arbovis. Arbrovis adalah singkatan dari arthropod-borne viruses, artinya virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, sengkerit atau lalat (Soedarmo, 2005.hal. 4).
Dengue Hemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegyepti (betina)   (Effendy, Christiantie: 1995)

B.     Anatomi Fisiologi (Syaiffudin, 1997: Hal. 4)
1.      Sel-sel darah ada 3 macam yaitu:
a.       Eritrosit (sel darah merah)
Eritrosit merupakan sel darah yang telah berdeferensi jauh dan mempunyai fungsi khusus untuk transport oksigen.
b.      Leukosit (sel darah putih)
Sel darah putih yang mengandung inti, normalnya 5.000 – 9.000 sel/mm³.
c.       Trombosit (sel pembeku darah)
Keping darah berwujud cakram protoplasmanya kecil yang dalam peredaran darah tidak berwarna, jumlahnya dapat bevariasi antara 200.000 – 300.000/mm³ darah.
a)      Struktur Sel
1)      Membran sel (selaput sel)
Membran struktur elastic yang sangat tipis, tebalnya hanya 7,5-10nm. Hampir seluruhnya terdiri dari keeping-keping halus gabungan protein lemak yang merupakan lewatnya berbagai zat yang keluar masuk sel. Membran ini bertugas untuk mengatur hidup sel dan menerima segala untuk rangsangan yang datang.
2)      Plasma
Bahan-bahan yang dapat dalam plasma: anorganik (garam mineral, air, oksigen, karbohidrat, amoniak), bahan organis (karbohidrat, lemak, protein, hormon, vitamin dan asam nukleat).
C.     Etiologi
Sebagai penyebab dari penyakit DHf adalah virus Dengue sejenis arbovirus (Suridadi dan Yuliani, 2001).

Virus Dengue adalah anggota genus flavivirus dan anggota famili flaviviridae. Virus berukuran kecil ( 50 mm), dengan berat molekul 4x106 ini memiliki single standard RNA (Ribonucleic Acid) yaitu asam nukleat yang ditemukan dalam nucleus, sitoplasma dan ribosom. Virus Dengue membentuk suatu kompleks yang nyata di dalam genus flavivirus berdasarkan karakteristik antigenik dan biologinya (Depkes RI, 2000).
Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk memerlukan waktu 7-10 hari. Tiap 2 hari nyamuk betina menghisap darah manusia dan bertelur. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan sedangkan nyamuk jantan 14 hari.




D.    Patofisiologi
 











E.     Tanda dan Gejala
1.      Gejala klinis (khas)
a.       Demam akut suhu 39-42o C dan terjadi pada malam hari
b.      Menggigil
c.       Perdarahan pada kulit : ptekie, ekimosis, hematom
d.      Perdarahan lain : epistaksis, hematemasis, hematuri, melena
e.       Renjatan, nadi cepat dan lemah
f.       Tekanan darah menurun (< 20 mmHg)
g.      Kulit dingin dan gelisah
2.      Gejala nonklinis
a.       Pernafasan : batuk, pilek, sakit waktu menelan
b.      Pencernaan : mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi
c.       Nyeri/ sakit kepala
d.      Pembengkakan sekitar mata, lakrimasi, dan photo pobia.
e.       Siklus demam menyerupai pelana kuda

F.      Pembagian derajat DBD menurut WHO, 1999:
1.      Derajat I : Demam dan uji tourniquet positif
2.      Derajat II : Demam dan perdarahan spontan, pada umumnya dikulit atau perdarahan lainnya.
3.      Derajat III : Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala – gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan lemah, tekanan darah menurun (<20 mmHg) atau hipotensi disertai ekstremitas dingin dan anak gelisah.
4.      Derajat IV : Demam , perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala renjatan hebat (nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur).

G.    Komplikasi
Menurut WHO, 1999, komplikasi dari DHF adalah:
a.       Ensefalopati dengue dapat terjadi pada demam berdarah dengue dengan shok maupun tanpa shok
b.      Kejang  : Bentuk kejang halus terjadi selama fase demam pada bayi. Kejang ini mungkin hanya kejang demam sederhana, karena cairan serebrospinal ditemukan normal.
c.       Edema paru dapat terjadi karena hidrasi yang berlebihan selama proses penggantian cairan.
d.      Pneumonia mungkin terjadi karena adanya komplikasi iatrogenik serta tirah baring yang lama.
e.       Sepsis Gram negative dapat terjadi karenapenggunaan jalur intravena terkontaminasi.
f.       Dengue Syok Sindrom (DSS)


H.    Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Soegijanto (2002), pemeriksaan diagnostic pada pasien DHF meliputi:
1.      Laboratorium
Darah lengkap      
a.       Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat 20% atau lebih)
Normal : pria à 40-48 %
b.      Trombositopeni (Jumlah trombosit kurang dari 100.000 mm³)
Normal : 150000-400000/ui
c.       Perpanjangan masa perdarahan dan berkurangnya tingkat protobin
d.      Asidosis
e.       Kimia darah : hiponatremia, hipokalemia, hipoproteinemia

2.      Uji tourniquet positif
Menurut WHO dan Depkes RI (2000), uji tourniquet dilakukan dengan cara memompakan manset sampai ketitik antara tekanan sistolik dan diastolik selama lima menit. Hasil dipastikan positif bila terdapat 10 atau lebih ptekie per 2,5 cm². Pada DHF biasanya uji tourniquet memberikan hasil positif kuat dengan dijumpai 20 ptekie atau lebih. Uji tourniquet bias saja negatif atau hanya positif ringan selama masa shok, dan menunjukkan hasil positif bila dilakukan setelah masa pemulihan fase shok.
3.      Radiologi foto thorak: 50% ditemukan efusi fleura, efusi pleura dapat terjadi karena adanya rembesen plasma.
4.      Urine : albuminuria ringan
5.      Sumsum tulang : awal hiposeluler kemudian menjadi hiperseluler pada hari ke 5 dengan gangguan maturasi. Hari ke 10 biasanya normal.
6.      Pemeriksan serologi : dilakukan pengukuran titer antibody pasien dengan cara haemaglutination inhibition tes (HI test)/ dengan uji pengikatan komplemen (complemen fixation test/ CFT) diambil darah vena 2-5 ml
7.      USG : hematomegali-splenomegali

I.       Penatalaksanaan
1.      Medik
a.       DHF tanpa Renjatan
- Beri minum banyak ( 1 ½ – 2 Liter / hari ), seperti jus jambu, air the manis dan gula, sirup, dan susu
- Obat anti piretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
- Jika kejang maka dapat diberi luminal  ( antionvulsan ) untuk anak <1th dosis 50 mg Im dan untuk anak >1th 75 mg Im. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3mg / kb BB ( anak <1th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ kg BB.
- Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
b.      DHF dengan Renjatan
- Pasang infus RL
- Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB ), warna kuning pekat
- Tranfusi jika Hb dan Ht turun

2.      Keperawatan
a.       Pengawasan tanda – tanda vital secara kontinue tiap jam
- Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
- Observasi intik output
- Pada pasienDHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3   jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter – 2 liter per hari, beri kompres
- Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
- Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri o2 pengawasan tanda– tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, obsrvasi productie urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
b.      Resiko Perdarahan
- Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
- Catat banyak, warna dari perdarahan
- Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal
c.       Peningkatan suhu tubuh
- Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodic
- Beri minum banyak

J.       Pencegahan Demam Berdarah Dengue
Menurut Depkes RI, 2000, pencegahan DHF antara lain sebagai berikut :
a.       Pengelolaan Lingkungan
Penegelolaan lingkungan meliputi berbagai perubahan yang menyangkut upaya pencegahan atau mengurangi perkembengan vector dengan cara :
1)      Mengeringkan instalasi penampungan air karena genangan air / kebocoran di ruang berdinding batu, pipa penyaluran, kotak keran, dll akan menampung air dan menjadi tempat perindukan larva Aedes Aegypti bila tidak dirawat.
2)      Menutup tempat penampungan air di lingkungan rumah tangga antara lain : jamban/vas bunga, perangkap semut, tempat minum burung, bak mandi, genthong, bak wc.
3)      Menguras tempat/bak penampungan air minimal seminggu sekali.
4)      Sampah padat seperti kaleng, botol, ember, dan sejenisnya yang tersebar disekitar rumah harus dikubur di dalam tanah. Ban mobil bekas juga harus selalu ditutup untuk mencegah tertampungnya air hujan. Lubang pada pagar yang terbuat dari bambu berlubang harus dipotong pada ruasnya dan pagar beton harus dipenuhi pasir untuk mengurangi perindukan aedes Aegypti.

b.      Perlindungan diri
1)      Pakaian pelindung / baju yang dicelupkan kedalam cairan permetrhirn efektif melindungi gigitan nyamuk.
2)      Obat nyamuk semprot atau baker
3)      Obat oles anti nyamuk (repellent).
4)      Tirai atau kelambu nyamuk.

K.    Ciri-ciri nyamuk aedes aegypti
1.      Sifat nyamuk aedes aegypti
a.       Berwarna hitam dan belang-belang putih pada sekujur tubuhnya
b.      Berkembang biak ditempat penempungan air dan barang-barang yang memungkinkan air tergenang missal : bak mandi, tempayan, vas bunga, kaleng, ban bekas, botol
c.       Nyamuk aedes aegypti tidak dapat berkembang biak diselokan atau got atau kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah.
d.      Biasanya menggigit (menghisap darah) pada pagi hari pukul 08.00-12.00 sampai sore hari pukul 15.00-17.00
e.       Mampu terbang sampai ketinggian 100-200 m
2.      Sifat jentik nyamuk aedes aegypty
a.       Selalu bergerak aktiv dalam air
b.      Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke ataspermukaan air untuk bernapas, kemudian turun kembali ke bawah
c.       Pada waktu istirahat, posisinya hamper tegak lurus dengan permukaan air
3.      Sifat- sifat telur nyamuk aedes aegypti
a.       Ukurannya sangat kecil
b.      Warna hitam
c.       Tahan sampai 8 bulan ditempat kering






ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian Keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama dan hal penting dilakukan oleh perawat. Hasil pengkajian yang dilakukan perawat terkumpul dalam bentuk data. Adapun metode atau cara pengumpulan data yang dilakukan dalam pengkajian : wawancara, pemeriksaan (fisik, laboratorium, rontgen), observasi, konsultasi.

A. Wawancara
a. Biodata klien
Meliputi identitas pasien dan keluarga.
b. Riwayat kesehatan
– Riwayat kesehatan sekarang.
Biasanya klien demam, lemah, sakit kepala, anemia, nyeri ulu hati dan nyeri otot.
– Riwayat kesehatan keluarga.
Sebelumnya apakah ada anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama.
- Riwayat kesehatan dahulu
Apakah sebelumnya klien pernah mengalami penyakit yang sama.

B. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum
Kesadaran : Composmentis, samnolen, koma (tergantung derajat DHF)
TTV : Biasanya terjadinya penurunan

2) Kepala
- Wajah : Kemerahan (flushig), pada hidung terjadi epistaksis
- Mulut : Perdarahan gusi, muosa bibir kering dan kadang-kadang lidah kotor dan hiperemia pada tenggorokan
- Leher : Tidak ada masalah
- Thorak

3) Paru : Pernafasan dangkal, pada perkusi dapat ditemukan bunyi redup karena efusi fleura
Jantung : Dapat terjadi anemia karena ekurangan cairan
- Abdomen : Nyeri ulu hati, pada palpasi dapat ditemukan pembesaran hepar dan limpa

4) Ekstremitas : Nyeri sendi

5) Kulit : Ditemukan ptekie, ekimosis, purpura, hematoma, hyperemia

a). Data subyektif
Adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau keluarga pada pasien DHF, data obyektif yang sering ditemukan menurut Christianti Effendy, 1995 yaitu :
1.)
Lemah.
2.) Panas atau demam.
3.) Sakit kepala.
4.) Anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan.
5.) Nyeri ulu hati.
6.) Nyeri pada otot dan sendi.
7.) Pegal-pegal pada seluruh tubuh.
8.) Konstipasi (sembelit).

b). Data obyektif :
Adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas kondisi pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara lain :
1) Suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan.
2) Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor.
3) Tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis, ekimosis,
hematoma, hematemesis, melena.
4) Hiperemia pada tenggorokan.
5) Nyeri tekan pada epigastrik.
6) Pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa.
7) Pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin,
gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.
Pemeriksaan laboratorium pada DHF akan dijumpai :
1) Ig G dengue positif.
2) Trombositopenia.
3) Hemoglobin meningkat > 20 %.
4) Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
5) Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia.
Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia, peningkatan limfosit, monosit, dan basofil
1) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
2) Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
3) Waktu perdarahan memanjang.
4) Asidosis metabolik.
5) Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.






















Rencana Tindakan Keperawatan
NO
Diangnosa keperawata
Hasil yang diharapkan
Rencana tindakan
rasional
1
Peningkatan suhu
tubuh (hiperter- mia) sehubungan dengan proses pe- nyakit (viremia).

Suhu tubuh normal (36 - 37 OC).
-Pasien bebas dari demam

1.Mengkaji saat timbulnya
demam


2.Mengobservasi tanda- tanda vi-tal: suhu, nadi, tensi, pernapasan seti-ap 3 jam atau lebih sering.
3.Memberikan penjelasan
tentang penyebab demam atau pening- katan suhu tubuh.



4.Memberikan penjelasan
pada pasi-en/keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam & menganjurkan pasien /keluarga
untuk kooperatif.
5. Menjelaskan pentingnya tirah ba-ring bagi pasien & akibatnya jika hal tersebut tidak dilakukan.
6.Menganjurkan pasien untuk ba-nyak minum± 2,5 l/24 jam & jelaskan manfaatnya bagi pasi-en.

7.7. Memberikan kompres dingin (pada daerah axila & lipat paha).
8.Menganjurkan untuk tidak mema-kai selimut & pakaian yang tebal.
9. Mencatat asupan &
Keluaran


10. Memberikan terapi cairan in-travena & obat- obatan sesuai dengan program dokter (masalah kolaborasi)
1. Untuk
mengidentifikasi
polade-mam
pasien.
2. Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
3. Penjelasan tentang kondisi yang dialami pasiendapat membantu pasien/keluarga mengurangi kecema-san yang timbul.
4. Keterlibatan keluarga sangatbe-rarti dalam proses penyembuhan pasien di rumah sakit.

5. Penjelasan yang diberikan pada pasien/keluarga akan memotivasi pasien untuk kooperatif.
6. Peningkatansuhu tubuh mengaki-batkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
7. Kompres dingin akan membantu menurunkan suhu tubuh.
8. Pakaian yang tipis akan
membantu mengurangi penguapan tubuh.
9. Untuk mengetahui adanya ketidak- seimbangan cairan tubuh.
10. Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi.
Pemberian cairan merupakan we- wenang dokter sehingga perawat perluberkolaborasi
dalam hal ini.


2
Gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi;
kurang dari kebutuhan - Sehubungan dengan mual,muntah,anoreksia & sakit saat menelan.

Kebutuhan nutrisi pasien ter-penuhi;
pasien mampu meng-habiskan makanan sesuai de-ngan porsi yangdiberikan/di-
butuhkan.

1. Mengkaji keluhan mual, sakit
me-nelan & muntah yang dialami oleh pasien.
2.Mengkaji cara/bagaimana
makanan dihidangkan.

3.Memberikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur, tim & dihi-dangkan saat masih hangat.
4.Memberikan makanan dalam porsi kecil & frekuensi sering.
5. Menjelaskan manfaat
makanan/ nutrisi bagi pasien terutama saat
pasien sakit.
6. Memberikan umpan balik positif saat pasien mau berusaha mengha- biskan makanannya.
7.Mencatat  jumlah/porsi  makanan yang dihabiskan oleh pasien se-tiap hari.
8. Memberikan nutrisi parenteral (kolaborasi dengan dokter).
9.  emberikan obat-obat antasida (anti emetik) sesuai program dokter.
10. Mengukur berat badan pasien se-tiap hari (bila mungkin).
1.Untuk menetapkan cara mengatasi-nya.

2. Cara menghidangkan makanan d-pat mempengaruhi nafsu makan
pasien.
3. Membantu mengurangi kelelahan pasien & meningkatkan asupan makanan karena mudah
ditelan.
4. Untuk menghindari mual & muntah.
5. Meningkatkan pengetahuan
pasien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan
meningkat.
6.Memotivasi & meningkatkan
se-mangat pasien.

7.Untuk mengetahui pemenuhan
nutrisi pasien. Nutrisi parenteral sangat bermanfaat/dibutuhkan pasien terutama jika intake per oral sangat kurang. Je-nis & jumlah pemberian nutrisi  Parenteral merupakan wewenang dokter. Obat antasida (anti emetik) mem-bantu pasien mengurangi rasa mual & muntah. Dengan pemberian obat tersebut
diharapkan intake nutrisi pasien
meningkat. Untuk mengetahui
status gizi pasien.
3
Kurangnya pengetahuan
tentang proses penyakit, diet, perawatan & obat- obatan pasien sehubungan dengan kurangnya informasi.

Pengetahuan pasien/keluarga
tentang proses  penyakit, diet, perawatan & obat-obatan bagi penderita DHF meningkat  serta pasien/keluarga mampu menceritakannya kembali

1.Mengkaji tingkat pengetahuan
pasien/keluarga tentang penyakit DHF.
2.Mengkaji latar belakang pendidikan pasien/keluarga. 3. Menjelaskan tentang proses penya-kit, diet, perawatan & obat-obatan pada pasien dengan bahasa & ka-ta- kata yang mudah dimengerti/ dipahami.
4.Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan & manfaat nya bagi pasien.
5.Memberikan kesempatan
Pada pa-ien/keluarga untuk menanyakan hal- hal yang ingin diketahui sehu-ungan dengan penyakit yang di-alami pasien.
6. Menggunakan leaflet atau
Gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada/memungkinkan)

Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga,  perawat perlu me-ngetahui sejauh mana
Informasi atau pengetahuan tentang penyakit yang diketahui pasien serta kebe-naran in- formasi yang telah dida-patkan sebelumnya.Agar perawat dapat
memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan
mereka sehingga penje-lasan dapat dipahami & tujuan yang direncanakan tercapai. Agar informasi dapat diterima de-ngan mudah & tepat sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman. Dengan mengetahui prosedur atau
tindakan yang akan dialami, pasien akan lebih kooperatif  & kecema-annya menurun. Mengurangi kecemasan & memo-tivasi pasien untuk kooperatif selama masa perawatan atau  penyembuhan. Gambar-gambar
atau media cetak seperti leaflet dapat membantu me-ngingat penjelasan yang telah dibe-rikan karenadapat dilihat atau di baca
berulang
kali.


http://www.scribd.com/doc/33702630/askep-dengan-DHF












SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)
-----------------------------------------------------------------
Tema                           : DHF
Sub Tema                    : Pencegahan penularan DHF
Waktu                         : 30 menit
Sasaran                        : Keluarga Anak Nonce
Tempat                       : Bangsal J Rumah Sakit HK
Penyuluh                     : Perawat Y


I.                   Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 30 menit diharapkan keluarga anak Nonce dapat memahami tentang cara pencegahan DHF.

II.                Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah dilakukan tindakan penyuluhan selama 30 menit tentang cara pencegahan DHF diharapkan :
a.       Keluarga dapat menjelaskan tentang mekanisme penularan DHF.
b.      Keluarga dapat menjelaskan cara-cara mencegah penyakit DHF.

III.             Pokok Materi
a.       Mekanisme penularan DHF
b.      Pencegahan penularan DHF

IV.             Metode :
1.      Ceramah
2.      Tanya jawab



V.                Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan
Penyuluhan
Audiance
Waktu
Pendahuluan dan Apresepsi
-          Salam Pembuka
-          Menyampaikan Tujuan Penyuluhan
-          Apresiasi
-          Menjawab Salam
-          Menyimak
-          Menjawab Pertanyaan
5 menit
Isi
-          Menyampaikan mekanisme penularan DHF.
-          Menyampaiakan cara mencegah DHF.
-          Memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya
-          Menjawab pertanyaan
-          Evaluasi
-          mendengarkan penuh perhataian
-          menanyakan hal-hal yang belum jelas
-          memperhatikan  jawaban dari penceramah
-          menjawab pertanyaan
20 menit
Penutup
-          Menyimpulkan
-          Salam penutup
-          Mendengarkan
-          menjawab salam
5 menit

VI.             Media :
      1. Leaflet
      2. Papan bolak-balik (Pamflet).

VII.          Sumber/ referensi:





VIII.       Evaluasi
A.    Formatif
      Pasien dan keluarga mampu memahami tentang pencegahan penyakit DHF.
B.     Sumatif
1.      Keluarga dapat menjelaskan mekanisme penularan penyakit DHF.
2.      Keluarga dapat menjelaskan cara-cara pencegahan penyakit DHF.

Yogyakarta, 20 Maret 2010

(Penyuluh)





















LAMPIRAN MATERI
A.    MEKANISME PENULARAN DHF
Apakah DB itu?
Demam berdarah dengue, istilah kedokterannya Dengue Hemorrhagik Fever (DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue tipe 1-4, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina (dominan) dan beberapa spesies Aedes lainnya. Di Indonesia sendiri, keempat tipe virus Dengue dapat ditemukan, dan yang dihubungkan dengan gejala DHF yang parah adalah tipe 3. Kekebalan (imunitas) terhadap satu jenis virus tidak berlaku untuk infeksi jenis virus lainnya, bahkan dapat menimbulkan reaksi yang kurang menguntungkan bagi tubuh. Jumlah kasus DHF utamanya meningkat pada musim hujan dimana sumber air bersih bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes tersedia dimana-mana, jika tidak dilakukan program pembersihan lingkungan yang baik.
Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.
Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.
B.     CARA-CARA PENCEGAHAN PENYAKIT DHF
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
1.      Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah.
Sebagai contoh:
a)      Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
b)      Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali
c)      Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
d)     Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah- dan lain sebagainya.

2.      Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan
jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
3.      Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
·         Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna- untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
·         Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air- seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.






















JURNAL
Abstrak
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai dengan demam dan perdarahan. Selain itu terdapat efusi pleura yang diduga karena peningkatan permeabilitas vaskular. Berdasarkan tanda tersebut, diduga disfungsi endotel memegang peranan dalam patogenesis demam berdarah dengue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pada demam berdarah dengue terjadi disfungsi endotel dengan memeriksa kadar sVCAM-1, von Willebrand factor dan petanda aktivasi koagulasi yaitu D dimer. Di samping itu ingin diketahui apakah ada hubungan antara petanda disfungsi endotel dengan beratnya penyakit. Desain penelitian ini potong lintang, kelompok kasus terdiri atas 31 penderita DBD dan kelompok kontrol terdiri atas 30 penderita demam bukan DBD. Kadar sVCAM-1 diperiksa dengan cara ELISA, vWF dengan cara enzyme linked fluorescent assay (ELFA) dan D-dimer dengan cara sandwich enzyme immunoassay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar sVCAM-1 pada kelompok DBD dan kelompok kontrol berturut-turut adalah 1323 ng/mL dan 1003 ng/mL, sedangkan simpang bakunya berturut-turut 545 ng/mL dan 576 ng/mL. Rerata kadar vWF pada kelompok DBD dan kontrol berturut-turut 284% dan 327%, dengan simpang baku berturut-turut 130% dan 141%. Kadar sVCAM-1 tidak berkorelasi dengan jumlah trombosit, kadar albumin, kadar D dimer dan beratnya penyakit. Terdapat korelasi lemah antara kadar vWF dengan D dimer dan beratnya penyakit. ( r = 0,472 dan r = -0,450). Kesimpulan: Hasil pemeriksaan sVCAM-1, vWF dan D dimer menunjukkan bahwa pada DBD terjadi disfungsi endotel. Namun tidak ada hubungan antara sVCAM-1 dengan beratnya penyakit, hanya ada hubungan yang lemah antara vWF dengan D dimer maupun beratnya penyakit.
















PERAN PERAWAT SEBAGAI ADVOKAT KLIEN  SESUAI DENGAN KASUS 5
            Peran ini di lakukan perawat dalam membantu klien dan kinerja dalam menginterprestasikan berbagai informasi dari pemberi pelangan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan.
Perawat juga berperan dalam mempertahankan dan mengimbangi hak-hak pasien meliputi :
Ø  Hak atas pelangan sebaik-baiknya
Ø  Hak atas informasi tentang penyakitnya
Ø  Hak atas prifasi
Ø  Hak untuk menetukan nasib sendiri
Ø  Hak menerima ganti rugi akibat kegagalan

ASPEK LEGAL DAN ETIK KEPERAWATAN
Aspek Legal
ü  Sebagai Narasumber dan fasilitator perawatan paliatif (untuk memberikan perasaan nyaman dan menghindari keresahan, membantu belajar mandiri, menghibur saat sedih,membangun motivasi diri).
ü  Memberikan inform consent/lembar persetujuan kepada klien terhadap segala tindakan keperawatan yang akan dilakukan.
ü  Sebagai penghubung  antara klien dengan tim kesehatan lainnya dalam rangka pemenuhan kebutuhan klien.
ü  Memberikan penyuluhan yang berhubungan dengan pengetahuan penyakit DHF , mengajar keluarga tentang bertanya dan mendengarkan, memberikan informasi dan mendiskusikan, mengevaluasi pemahaman, mendengar dan menjawab pertanyaan, menunjukkan cara melakukan sesuatu dengan benar dan mandiri serta pemecahan masalah.serta pengobatan yang diperlukan/ dilakukan
Kode etik
Ø  Beneficence
Mengupayakan yang terbaik untuk klien dalam segala tindakan dan kebutuhan klien.
Apabila diperlukan tindakan donor, maka tindakan itu diperhatikan, serta benar-benar dalam keadaan yang gawat, atau memerlukan tindakan donor darah dikarenakan kekurangan darah
Ø  Non-malefience
Menghindari tindakan yang dapat merugikan / membahayakan klien seperti salah memberikan dosis obat. Serta salah melakukan pemeriksaan, misalnya pada pemeriksaan darah, karena selain memerlukan biaya yang mahal, serta dapat menyebabkan pasien tersebut malah menimbilkan penyakit yang baru

Hak dan Kewajiban pasien:
Didalam mendapatkan layanan kesehatan, pasien mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana Surat edaran DirJen Yan Medik No: YM.02.04.3.5.2504 Tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, th.1997; UU.Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran dan Pernyataan/SK PB. IDI, sebagai berikut :Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien:
  1.
Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur
  2.
Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi
  3.
Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan
  4.
Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit
  5.
Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar
  7.
Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku
  8.
Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara lengkap tentang tindakan medik yg akan dilakukan thd dirinya.
  9.
Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya
 10.
Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.
 11.
Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribad dan atau masalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang kematian).
 12.
Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu ketertiban & ketenangan umum/pasien lainya.
 13.
Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit
 14.
Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit terhadap dirinya
 16.
Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran)
 17.
Hak akses /’inzage’ kepada rekam medis/ hak atas kandungan ISI rekam medis miliknya
 KEWAJIBAN PASIEN
 1.
Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya kepada dokter yang merawat, serta keluhan apa saja yang sedang dialami saat sakit.
 2.
Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi dan perawat dalam pengobatanya.
 4.
Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima. Berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar